Sudah menjadi hal yang biasa bila sebuah organisasi mempunyai konflik internal yang bisa mengancam keberadaan organisasi tersebut. Hal ini juga dialami oleh saya sendiri sebagai bagian dari BEM XXX yang memegang jabatan di divisi akademis. Kebetulan dalam bulan-bulan ini BEM XXX akan mengadakan sebuah seminar sebagai salah program kerja dari BEM XXX.
Sebelum seminar tersebut dapat terwujud, kami pun menyusun terlebih dahulu kepanitiaan untuk memproses acara tersebut agar dapat berjalan dengan baik. Maka kami pun dengan sebuah rapat kecil, membentuk kepanitiaan yah walaupun dengan beberapa anggota yang lainnya. yang hadir memberikan ideology dan terobosan baru membentuk seminar tersebut.
Akhirnya saya terpilih memegang penuh tanggung jawab sebagai sekertaris dalam seminar tersebut. Saya bersama ketua acara seminar tersebut pun mempunyai ide-ide yang sangat berbeda. Saya pun merasakan begitu beratnya jika timbul perbedaan pendapat seperti ini. Memang sih perbedaan pendapat akan selalu ada dalam sebuah organisasi.
Langkah pertama yang harus saya lakukan yaitu membuat sebuah proposal sebagai syarat wajibnya agar acara seminar tersebut dapat berjalan. Meminta ijin kepada ketua jurusan dan pihak-pihak lain yang sedianya mendukung acara kami itu.
Saya dan ketua ditemani wakilnya membuat proposal di rumah kosan teman yang letaknya tidak jauh dari kampus kami. Dari sinilah konflik kecil pun terjadi, karena berulang kali pendapat saya tidak dihargai oleh ketua padahal ide-ide saya pun sudah rancang sebelumnya dirumah dan mungkin ada beberapa ide-ide saya yang cemerlang untuk membuat sebuah proposal.
Saya pun tidak tahu mengapa pendapat saya diabaikan begitu saja, namun saya terus berusaha dan mempertahankan pendapat demi pendapat yang saya ajukan agar dapat diterima. Sudah begitu saya pun tidak dianggap bahwa saya ada disana bersama mereka. Mereka hanya sibuk berdua menyusun proposal tersebut. Dari sinilah saya merasa tersingkirkan dan saya pun menghadapinya dengan kesabaran . karena kesabaran pula yang harus dipegang penuh oleh seorang wakil dari sebuah kepanitiaan. Bukankah sudah menjadi hal yang biasa??? Coba kita lihat ke pada kursi pemerintahan kita, presiden dan wakilnya pun bisa bersitegang.
Setelah itu, saya memutuskan untuk pulang saja kerumah karena dengan saya berada diposisi tersebut akan menjadi keributan kecil nantinya. Saya pun sadar, bahwa tidak akan ada baiknya jika harus seperti ini. Dan saya pun mulai merancang solusi bersama teman saya yang lain yang tentunya satu divisi. Teman saya pun ternyata mengalami hal yang sama. Saat teman saya pun ikut berkumpul menyusun proposal, hanya ketua dan wakilnya saja yang berperan. Mulai dari sinilah ada ketidak beresan dalam kepanitiaan tersebut. Seharusnya seorang ketua dan wakilnya mampu menampung aspirasi-aspirasi dari bawahan demi kelancaran acara tersebut. Tapi dalam kenyataannya berbeda, ketua dan wakilnya hanya mementingkan pendapat mereka sendiri.
Rapat yang diadakan di Kampus depok tersebut tidak mendapat respon apapun dari anggota yang lain. Maka ketua dan wakilnya tersebut memrintahkan kepada anggota lainnya untuk menghadiri rapat di Kampus Bekasi seminggu berikutnya. Keputusan dari ketua tersebut bukan hal yang tepat bagi saya, karena secara logika anggota yang lain yang berada dikampus Depok tidak mendapat respon apalagi anggota lain yang berada di kampus Bekasi yang notabene anggota nya lebih banyak dikampus Depok??
Benar saja, rapat yang tadinya diadakan di kampus Bekasi tidak berjalan dengan baik/ gagal. Hal ini di karenakan karena :
1. Kurangnya koordinasi antara ketua dan anggota-anggota lainnya.
2. Ketua dan wakilnya yang hanya mementingkan diri mereka sendiri dan tidak berdasarkan pada tolak ukur pemikiran dan aspirasi bawahannya.
3. Waktu yang sempit
4. Cara pandang situasi yang belum kondusif
5. Dipicu masalah-masalah internal yang terjadi antara atasan dan bawahan
Dalam konflik seperti ini saya tidak hanya tinggal diam, keputusan yang saya ambil untuk menghadapi masalah ini alah saya berbicara via telepon dan membicarakan dengan baik dan secara kekeluargaan agar tercipta solusi yang baik dengan tujuan memperoleh hasil yang maksimal dalam seminar tersebut. Setelah berbicara dengan ketua dan wakilnya mudah-mudahan tidak hanya saya yang introspeksi diri tapi mereka juga selaku Ketua dan Wakilnya yang sedianya sadar atas sikap dan perilaku mereka.
Dalam konteks ini, akhirnya proposal pun sudah siap untuk diajukan kepada pihak-pihak yang mendukung acara kami ini. Mudah-mudahan acara kami ini dapat berjalan dengan baik. Amin
Selasa, 02 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar